MINAHASA (Trendingnews.web.id) – Pemerintah pusat bersama Unima menegaskan komitmen untuk mempercepat penyelesaian kasus kekerasan seksual yang menimpa salah satu mahasiswa Unima, Evia Maria Mangolo.
Hal tersebut ia sampaikan pada pertemuan koordinatif antara Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Arifatul Choiri Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), serta Rektor Unima, Dr. Joseph Philip Kambey, SE., MBA., Ak., di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Menteri Brian Yuliarto menyebutkan, bahwa pertemuan itu merupakan bentuk respons serius negara terhadap kekerasan seksual yang dialami mahasiswa Unima.
Ia berujar, sejak awal pihaknya melakukan koordinasi intensif dengan Rektor Unima dan Kementerian PPPA guna memastikan penanganan kasus berjalan cepat, transparan, dan sesuai ketentuan hukum.
“Kami terlebih dahulu menyampaikan duka cita dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Peristiwa ini adalah pelanggaran serius yang menimbulkan duka bagi kita semua,” ungkap Brian.
Kita dan tim dari Kemendiktisaintek, Kementerian PPPA, dan Rektor Unima telah mengunjungi keluarga korban, dan kami memiliki konsen yang sama untuk menyelesaikan kasus ini secara sungguh-sungguh,” imbuhnya.
Ia mengapresiasi langkah cepat Rektor Unima beserta jajaran yang telah menonaktifkan dosen terduga pelaku, sebagai bentuk tanggung jawab institusional sekaligus upaya menjaga integritas lingkungan akademik.
“Kami sangat mengapresiasi gerak cepat pimpinan Unima. Proses hukum akan kami dorong berjalan cepat, dan sanksi akan dijatuhkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” sampainya.
Dirinya menekankan, penanganan harus menjadi gerakan bersama seluruh civitas akademika. Ia pun mengajak dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan untuk berani melaporkan setiap tindakan menyimpang dari nilai akademik dan kemanusiaan.
“Kami memastikan setiap laporan akan dilindungi. Tidak perlu takut, tidak perlu malu. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga ruang pendidikan tetap aman dan bermartabat,” kata Brian.
Sementara, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kementerian dan lembaga dalam menangani kasus kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi.
Menurutnya, regulasi yang ada harus dijalankan secara konsisten, sekaligus diperkuat melalui sosialisasi dan upaya pencegahan secara masif.
“Pertemuan ini menegaskan kolaborasi antar kementerian dan lembaga. Regulasi sudah ada, namun perlu penguatan, sosialisasi, dan pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan di kampus-kampus. Kita ingin bergerak cepat setiap kali peristiwa seperti ini terjadi,” ungkap Arifatul.
Ia menambahkan, kampus harus menjadi ruang aman bagi mahasiswa, khususnya perempuan, dengan sistem perlindungan yang jelas dan responsif terhadap korban.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unima, Dr. Joseph Philip Kambey, SE., MBA., Ak., menegaskan komitmen Unima mengawal proses penyelesaian kasus secara bertanggung jawab, serta memastikan Unima menjadi lingkungan akademik yang bebas dari kekerasan dan pelecehan seksual.
Pertemuan tersebut menegaskan kehadiran negara dan perguruan tinggi dalam melindungi mahasiswa, sekaligus menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran kolektif agar kasus serupa tidak kembali terulang di dunia pendidikan tinggi. (JM)
